Halaman

Selasa, 29 November 2011

Bontoa dalam Tinjauan Sejarah

1299736929312434516
Hamparan persawahan di Bontoa, Marusu (foto by me, 9 Maret 2011)
BONTOA Sebenarnya adalah nama yang ‘masahoro’ (makassar : masyhur, terkenal). Di tiap - tiap daerah Bugis Makassar di Sulawesi Selatan dapat dipastikan ada kampung atau wanua yang dinamai Bontoa atau Bonto, sama halnya dengan nama Tanete atau Tanetea. Bontoa yang penulis maksudkan dalam tulisan ini adalah ‘Bontoa Marusu’, berada di Maros, kecamatan paling utara ‘Butta Salewangan’(nama lain Kabupaten Maros) ini dalam sejarahnya merupakan salah satu wilayah kekaraengan dalam lingkup Kerajaan Toddo Limayya ri Marusu’, satu kerajaan kecil penerus Dinasti Kerajaan Marusu’ setelah Kerajaan ini ditaklukkan dan dijadikan bawahan Kerajaan Gowa sejak masa pemerintahan Raja Gowa IX, Karaeng Tumapakrisika Kallonna. 
12997376081757161748
Hamparan persawahan di Bontoa, Marusu (foto by me, 9 Maret 2011).
Asal Usul Nama ‘Bontoa’
PENAMAAN Bontoa merujuk kepada kondisi tanah atau daerah rendah (dataran rendah). Dalam Bahasa Makassar sering disebut kata “A’bontoi” yang artinya rendah atau sering pula dimaknai ’sering tergenang air’. Meski begitu tidak ada kesamaan kondisi semua daerah yang disebut Bontoa atau Bonto itu, karena ‘kerendahan’ yang dimaksud juga memiliki level rendah dari segi topografinya yang berbeda - beda, ada yang rendah, dan ada yang rendah sekali. Itulah sebabnya biasa pula kita mendengar, “liwa’ sikali abbonto’na” untuk menunjukkan suatu kawasan yang sangat rendah. Kondisi Bontoa atau Bonto itu merujuk kepada kawasan persawahan padi basah, rawa serta daerah dekat akses sungai dan laut.
12997374781463771106
Hamparan persawahan, Nampak di kejauhan deretan rumah penduduk Bontoa (foto by me, 9 Maret 2011).
Menurut Informan, Mannyarang (Umurnya sekitar 80 Tahun), yang ditemui penulis di Bontoa, menuturkan bahwa daerah Bontoa (Kecamatan Bontoa Maros) dulunya juga disebut Tanetea. Kawasan yang dia tunjuk sebagai Tanetea tersebut merupakan daerah yang sedikit lebih tinggi dari daerah yang dimaknai sebagai ‘Bontoa’. Penulis menduga kalau nama Tanetea adalah nama yang diberikan kepada daerah tersebut sebelum orang menamai atau memaknainya sebagai Bontoa. Hal ini merujuk dari informasi yang dituturkannya bahwa Bontoa adalah daerah yang tidak pernah tenggelam atau tergenang air, sehingga aman bagi penduduknya, bahkan kemudian banyak orang datang di daerah tersebut untuk bermukim.
1299738228855592325
Bontoa di suatu sore yang indah (foto by me, 9 Maret 2011).
BONTOA saat ini adalah salah satu kecamatan dalam lingkup Kabupaten Maros, sebelumnya dinamai Kecamatan Maros Utara, terletak pada perbatasan Kabupaten Maros dengan Kabupaten Pangkep. Tentunya sebelum ada penetapan wilayah administrasi kabupaten, wilayah perbatasan kedua kabupaten berpenduduk Bugis Makassar ini tidak seperti adanya sekarang, yang merujuk kepada perbatasan Kalibone. Pada masa lampau, daerah ini adalah satu, sampai di Mangemba, Soreang, Ka’ba, Panaikang, dan kampong - kampung lainnya.
Berdirinya Kekaraengan Bontoa
Ekspansi besar - besaran Gowa sejak masa kekuasaan Karaeng Tumapakrisika Kallonna, Raja Gowa IX, merubah peta geografi politik kawasan Sulawesi Selatan. Kerajaan Marusu’ yang dulunya merupakan kerajaan merdeka dan berdaulat, langsung berada dibawah dominasi Gowa. Serangan Gowa ke sebelah utara hampir pasti tidak mendapatkan perlawanan yang berarti, wilayah paling utara Marusu’, Bontoa yang berbatasan dengan Binanga Sangkara, wilayah Barasa (Pangkajene) dengan mudah ditaklukkan sejak masa kekuasaan Raja Gowa X, Karaeng Tunipalangga.
Supaya lebih mudah mengendalikan daerah pertanian padi basah yang subur ini, I Manriwagau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipallangga Ulaweng, Raja Gowa X (1546-1565) mengutus I  Mannyarrang, seorang bangsawan dari Bangkala, putra dari I Pasairi Daeng Mangngasi Karaeng Labbua Tali Bannangna, Karaeng Bangkala dari isterinya I Daeng Takammu Karaeng Bili’ Tangngayya untuk menjadi karaeng maggau’ di wilayah tersebut.
12997391451830936127
12997379681170637672Makam yang diduga makam I Mannyarang. Oleh penduduk Bontoa, mereka lebih mengenalnyadengan sebutan ‘Patanna Pa’rasangan’, terletak di sebelah barat SMA Negeri 1 Bontoa, dalam Kompleks Makam Karaeng Bontoa. (foto by me, 9 Maret 2011).
J.A.B. Van De Broor (1928) dalam tulisannya tentang Randji silsilah Regent Van Bontoa meriwayatkan Bontoa sebagai salah satu wilayah Kerajaan Marusu’ yang didirikan oleh Karaeng Loe ri Pakere’ sampai akhirnya I Mannyarang datang sebagai duta Somba Gowa untuk memperluas wilayah kekuasaannya di sekitar wilayah tersebut, meliputi : (1) Bontoa, (2) Salenrang, (3) Sikapaya, (4) Balosi, (5) Pa’rasangan Beru, (6) Panaikang, (7) Tanggaparang, (8) Lempangang, (9) Panjallingang, (10) Ujung Bulu, (11) Batunapara, (12) Belang - Belang, (13) Suli - suli, (14) Panambungan, (15) Magemba, dan (16) Tala’ Mangape.
Patut dicatat disini, bahwa terdapat Bontoa yang sebelumnya diklaim sebagai wilayah yang dikuasai oleh Karaeng Marusu, berdasarkan riwayat J.A.B. Van De Broor tentang Randji silsilah Regent van Bontoa (1928) yang mana mengisahkan kehadiran I Mannyarrang sebagai utusan Somba Gowa untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Dan selanjutnya, Karaeng Marusu’ mempersilahkan I Manyarrang membuka daerah baru yang menjadi kekuasaan Gowa. Namun, dalam Lontaraq silsilah Karaeng Loe ri Pakere sebagaimana ditulis Andi Syahban Masikki, tidak menempatkan Bontoa sebagai wilayah yang dikuasai Marusu’.
1299739127269035128
Kompleks Makam Karaeng Bontoa di Bontoa (foto by me, 9 Mei 2011).
Karaeng Bontoa I - XXII
  1. I MANNYARANG, Karaeng Bontoa I
  2. I MANNYUWARANG, Karaeng Bontoa II
  3. I Daeng SIUTTE, Karaeng BontoaIII
  4. I Daeng MANGNGUNTUNGI, Karaeng Bontoa IV
  5. I PAKANDI DG MASSURO, Karaeng Bontoa V
  6. I PANDIMA DG MALIONGI, Karaeng Bontoa VI
  7. I DAENG TUMANI, Karaeng Bontoa VII
  8. I MANGNGAWEANG DG MANGGALLE, Karaeng Bontoa VIII
  9. I REGGO DG MATTIRO, Karaeng Bontoa IX
  10. I PAREWA DG MAMALA, Karaeng Bontoa X
  11. I SONDONG DG MATTAYANG, Karaeng Bontoa XI
  12. I BAOESAD DG SITABA KARAENG TALLASA, Karaeng Bontoa XII
  13. I BAMBO DG MATEKKO (PETTA TEKKO), Karaeng Bontoa XIII
  14. ANDI RADJA DG MANAI (HOOF DISTRICT), Karaeng Bontoa XIV dan XVI
  15. ABDUL MAULA INTJE DJALALUDDIN (HOOF DISTRICT), Karaeng Bontoa XV
  16. ANDI MUHAMMAD DG SISILA (HOOF DISTRICT), Karaeng Bontoa XVII dan XIX
  17. ANDI DJIPANG DG MAMBANI (HOOF DISTRICT), Karaeng Bontoa XVIII dan XX
  18. ANDI RADJA DG MANAI KARAENG LOLOA (HOOF DISTRICT), Karaeng Bontoa XXI
  19. ANDI MUHAMMAD YUSUF DG MANGNGAWING (HOOF DISTRICT), Karaeng Bontoa XXII (Karaeng Bontoa Terakhir)
Marusu’ dalam Perang Makassar
Perang Makassar tidak terhindarkan sebagai konsekuensi dari upaya Bone - Soppeng melepaskan diri dari ‘penjajahan’ Gowa. Dengan menggandeng VOC (Belanda), Arung Palakka memimpin perlawanan Bugis terhadap Imperium besar di Nusantara Bagian Timur, Kerajaan Gowa. Perang Makassar menyisakan banyak kenangan di bekas wilayah Kerajaan Marusu’, termasuk didalamnya Bontoa.  Dalam Tahun 1668, Maros menyambut hangat utusan bugis dan menyatakan kesediaan bergabung melawan Gowa (Andaya, 157).
Di tahun yang sama, dalam Bulan Agustus, Pasukan elit Gowa menyerang Maros. Sukses pasukan bugis di Siang dan Maros mengingatkan kesetiaan bagi Turatea (Andaya, 158), Namun, dalam Bulan November 1668, pasukan Makassar memanfaatkan celah waktu saat perundingan dengan Bugis - Belanda untuk merebut kembali Maros, Siang, Labakkang, Segeri dan Barru (Andaya, 160).
Dalam tahun 1670 - 2, Arung Palakka memusatkan perhatian pada sawah di Maros dan Bantaeng, dua wilayah yang dihadiahkan padanya oleh Kompeni sebagai pinjaman (fiefs) atas kesetiaannya kepada Kompeni (KA), saat itulah, menurut sumber - sumber Bugis, sebagian Toangke diberi Tanah di Maros dan Segeri, wilayah yang asalnya didiami oleh Penduduk Makassar. Dalam Tahun 1678, Arung Palakka membagi wilayah kewenangannya. Daeng Memang, putera mantan Arumpone La Maddaremmeng diberi kewenangan atas Maros.  (Andaya, 255).
Dalam masa Tahun 1562 - 1611 ini, rakyat Marusu’ telah menyatukan darah orang Bugis Makassar sebagai dampak Konflik dan Perang Gowa - Bone dalam wujud keturunan, bahasa, tradisi dan adat istiadat. Konflik dan Perang tersebut terus berlanjut hingga kedatangan VOC (Belanda) yang digandeng Arung Palakka (Bugis - Soppeng) dalam Perang Makassar sebagaimana dijelaskan diatas. Sejarah ini paling tidak menjawab kenapa Marusu’ secara keseluruhan berpenutur Bahasa Bugis dan Makassar sekaligus.
Kampung Ka’ba dan Pangkajene Marusu’
Kampung Ka’ba pada permulaan Abad XVII, masuk pada kekaraengan Barasa. Sewaktu Gowa menaklukkan Barasa, kampong Ka’ba tidak berpenduduk. Tidak lama kemudian kampong tersebut bangkit kembali atas usaha dari seorang yang bernama La Mannyarang, seorang keturunan raja dari Bangkala (Jeneponto), beliau bermukim di Bontoa, dengan persetujuan dari Raja Gowa.
Mula - mulanya Bontoa hanya merupakan kegallarangan, kemudian baru ditingkatkan menjadi kekaraengan. La Mannyarang bersama dengan pendatang dari Bangkala mencetak sawah dan membuat perkampungan baru di bekas kampung yang kosong tersebut. Demikian pula halnya dengan Kampung Ka’ba yang berada dibawah kekuasaan La Mannyarang. Kampung tersebut masuk dalam daerah kekuasaan kekaraengan Bontoa sampai Tahun 1824, yaitu sampai akhir kekuasaan I Reggo Daeng Mattiro, Karaeng Bontoa IX.
Ka’ba bersama beberapa kampong lainnya, BanggaE, Japing - japing, Soreang, Pareang, Kalibone, Taraweang - Kabba, Galungboko, Udjung, Panaikang, Biringere, Tuarang, Massi, Djannae’ dan Pangkeng Sakiang dipisahkan dari Bontoa dan selanjutnya digabungkan pada Kekaraengan Pangkajene. (Makkulau, 2008). Saya menduga, eksistensi kekaraengan Bontoa ri Marusu’, yang mencakup pula wilayah Ka’ba, wilayah paling selatan Barasa (Pangkajene) menjadi awal penyebutan “Pangkajene Marusu” untuk membedakannya dari “Pangkajene Sidenreng”.

12997395151407855132
12997395971373982448
Sunset di Bontoa (foto by me, 9 Maret 2011).
JANGAN SEKALI - KALI MELUPAKAN SEJARAH ……
MARI TERUS BELAJAR DAN MENGGALI SEJARAH KITA.

0 komentar:

Posting Komentar